Gelombang Ketiga dalam Menikmati Kopi


gelombang ketiga budaya minum kopi

Seperti kebudayaan yang lain, budaya minum kopi juga mengalami evolusi. Penandaan evolusi budaya ngopi baru dicetuskan pada tahun 2002 oleh Thrish Rothgeb pada sebuah artikel di Wrecking Ball Coffee Roasters.

Minuman Kopi yang pada awalnya sebagai pelepas dahaga sekaligus pemompa semangat di saat kafein menjadi kebutuhan. Telah berkembang menjadi sesuatu yang sahih, kompleks, dicintai, dielu-elukan dan merasuk menjadi sebuah ritual yang tak sembarangan.

Berikut pembagian era evolusi budaya minum kopi menurut Rothgeb :

1. First Wave Coffee

gelombang ketiga budaya minum kopi

Gelombang pertama untuk menikmati kopi adalah cara yang sering dijumpai di Indonesia sejak lama. Yaitu menikmati kopi dimana saja dan dengan cara pembuatan sesederhana mungkin.

Inilah era kopi instan. Kebutuhan orang akan tendangan kafein untuk kesehariannya atau sekedar menikmati kopi di pagi hari menuntut kopi agar bisa dikemas sampai ke pelanggan dan bisa dinikmati dengan cara yang mudah.

Fokus utama pada gelombang ini tentu saja pada bagaimana kopi tersebut bisa dikemas dengan biaya seminim mungkin.

Penikmat kopi mungkin tidak tahu apa yang menjadi bahan kopi, darimana datangnya atau cara membuatnya. Tentu saja kualitas rasa kopi pada gelombang ini akan terasa datar saja, tidak ada yang daya tarik khusus. Hal ini lah yang memacu gelombang berikutnya untuk muncul.

Kebutuhan akan kopi yang lebih baik dari sisi penyajian maupun rasa menjadi titik awal perkembangan kopi gelombang kedua ‘Second Wave Coffee’.

2. Second Wave Coffee

gelombang ketiga budaya minum kopi

Lahirnya “Kopi Gelombang Kedua” ini terdorong oleh “kopi buruk” yang dihasilkan secara gila-gilaan di First Wave Coffee.

Peminum kopi pada gelombang kedua berusaha mencari cara menikmati kopi yang lebih baik. Dari sini lahir beberapa cara menikmati kopi dengan cara yang lebih modern. Istilah Esspresso, Coffee Latte, Capuccino, dll, lahir di era Second Wave Coffee ini.

Memang tidak mudah jika harus menikmatinya di rumah. Jika ingin menikati kopi dengan jenis ini harus pergi ke warung kopi modern atau disebut Cafe. Cafe penyaji kopi modern menjamur dimana mana, dan salah satu yang tersukses membawa budaya second wave coffee ini ke khalayak adalah Starbucks.

Tren pergi ke kafe ini lah yang menyebabkan pergeseran gaya hidup dalam hal menikmati kopi. Sudah hal yang umum, jika menikmati kopi di cafe dicap sebagai hal yang mewah oleh beberapa orang.

Selain terkesan high class, harganya yang cukup tinggi membuat beberapa orang keberatan untuk menikmati kopi ini setiap hari. Inilah salah satu pemacu gelombang berikutnya untuk muncul.

3. Third Wave Coffee

Pada gelombang ini, kopi dinilai bukan hanya sekedar minuman atau penyuplai kafein tubuh, tapi sebagai karya seni. Proses pembuatannya mulai dari hulu (jenis pengolahan pasca panen ), roasting / perendangan, hingga penyeduhan ( brewing ) menjadi perhatian oleh penikmat kopi. Setiap detail itulah yang menjadi daya tarik tersendiri bagi para penikmat kopi.

Eksplorasi rasa inilah yang membedakan gelombang ketiga dengan gelombang sebelumnya. Asal kebun, siapa petaninya, dan apa proses pasca panennya, menjadi ketertarikan sendiri para pecinta kopi. Hal ini kemudian memunculkan istilah Kopi Golongan Asal ( Single Origin Coffee ).

Selain itu, teknik manual brewing / seduh manual tidak dapat dipisahkan dari gelombang ketiga ini. Teknik pour over dengan v60, aeropress, syphon, dll dikembangkan untuk menikmati karakter kopi yang lebih detail dan unik. Penikmat kopi merasa lebih menikmati proses pembuatan kopi ini, seakan seperti sedang membuat sebuah karya seni melalui kopi.

gelombang ketiga budaya minum kopi

Untuk menikmati kopi gelombang ketiga ini, pada umumnya memang tak semahal jika dibanding menikmati kopi di cafe mahal. Banyak kedai kopi independen sudah mulai menjamur di kota besar maupun kota kecil yang menyajikan kopi seperti ini. Bahkan, tren third wave coffee sudah turun ke jalan dengan adanya kedai pinggir jalan yang menyajikan kopi dengan metode manual brewing.

Meski sudah hadir gelombang ketiga kopi, tentu saja penikmat kopi instan dan gengsi minum kopi di cafe-cafe mahal tidak serta merta punah begitu saja.

Hanya saja di gelombang ketiga ini, banyak bermunculan komunitas-komunitas pecinta kopi di berbagai kota di Indonesia. Bertujuan untuk kembali menyadarkan bahwa Indonesia termasuk penghasil biji kopi terbaik di dunia. Sehingga bangsa Indonesia sendiri berhak menikmati kopinya sendiri dengan benar. Juga mendampingi petani-petani kopi untuk menghasilkan biji-biji kopi terbaik yang dijual ke negeri sendiri.

LEAVE A COMMENT